Bertempat di Islamic Center, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Ring Road Selatan, Tamanan, Bantul, terselenggara Konferensi Nasional Kewarganegaraan III. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD bersama Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3Kn) DIY. Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 11 November 2017 ini bertemakan “Peneguhan Jiwa Profetik dan Patriotik, Merespon Dinamika Keindonesiaan dan Kemanusiaan”. Hadir sebagai keynote speaker pada kegiatan ini yaitu Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E. (Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah). Sedangkan pembicara pada konferensi ini adalah Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd (Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang), Dr. Kama Abdul Hakam (Tim Pengembang Nasional Pendidikan Karakter, dosen Pendidikan Umum Universitas Pendidikan Indonesia) dan Halili, M.A (dosen PKn-UNY). Isu-isu yang dibahas dalam konferensi ini dan menjadi sub tema pembahasan di forum pemakah diantaranya adalah transformasi nilai profetik PKn, pembelajaran PKn tingkat dasar, menengah dan pendidikan tinggi, inovasi dan model pembelajaran, serta isu keindonesiaan. Hadir 200 Peserta baik sebagai pemakalah dan peserta umum. Peserta tersebut berasal dari berbagai kalangan yaitu, Guru, pemerhati PKn, mahasiswa dan dosen. Sebanyak 66 naskah makalah siap dipublikasikan baik di prosiding cetak maupun online. Pemakalah berasal dari berbagai universitas diantaranya adalah UNY, UM Bengkulu, UM Makasar, Universitas buana karawang, UPI, dan UNNES. Ketua Panitia, Dikdik Baehaqi Arif, M.Pd menyampaikan harapannya terkait adanya konferensi kewarganegaraan, “Agar isu-isu ke-Indonesia-an dan keumatan yang dewasa ini menyeruak di permukaan dapat terjawab melalui konferensi ini” harap Dikdik. Kegiatan dibuka oleh ketua AP3Kn DIY. Dalam paparannya, Dahnil menyampaikan tentang perjuangan melalui nalar ilmiah sebagaimana yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh bangsa seperti Moh.Hatta. “Tokoh-tokoh ini melakukan perjuangan melalui perang tulisan di jurnal, melawan ilmuwan Belanda. Contohnya Perang terkait penyebutan nama Indonesia, juga munculnya Pancasila sebagai produk dialog. Instrumen dialog adalah nalar yang sehat, tanpa nalar ilmiah ini maka dialog pasti rusak”, jelasnya. (H3)