FKIP UAD Hadiri Evaluasi SEA-Teacher 2026 dan Konferensi Pendidikan Guru di Filipina
FKIP UAD SEA-Teacher 2026 menjadi bagian dari penguatan kerja sama internasional dalam pendidikan calon guru. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama dengan Kantor Kerjasama Urusan Internasional (KKUI) UAD menghadiri SEA-Teacher Programme Evaluation Meeting dan Southeast Asia Conference on Pre-Service Teacher Education pada 20–21 Oktober 2026.
Kegiatan berlangsung di Seda Manila Bay, Parañaque City, Filipina. Forum ini mempertemukan perguruan tinggi dan pemangku kepentingan pendidikan untuk mengevaluasi program praktik mengajar internasional. Selain itu, peserta membahas penguatan kebijakan, penelitian, dan kolaborasi pendidikan guru di Asia Tenggara.
FKIP UAD mengirimkan Dr. Ratri Nur Hidayati, M.Pd.B.I., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, sebagai perwakilan. Kehadirannya menjadi bagian dari komitmen UAD dalam mengembangkan pengalaman internasional bagi mahasiswa calon guru.
FKIP UAD SEA-Teacher 2026 Perkuat Kolaborasi Internasional
Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) menyelenggarakan kegiatan ini bersama Teacher Education Council (TEC) Filipina dan Philippine Normal University (PNU). Sementara itu, REX Education turut mendukung kegiatan sebagai mitra penyelenggara.
Forum tersebut menghadirkan lebih dari 300 peserta dari berbagai negara. Mereka terdiri atas pimpinan perguruan tinggi, pengelola fakultas, koordinator SEA-Teacher, dosen, peneliti, mahasiswa, dan alumni program.
Berdasarkan data partisipasi, institusi yang hadir meliputi:
- Kamboja: 1 universitas.
- Indonesia: 52 universitas.
- Jepang: 1 universitas.
- Filipina: 180 universitas.
- Thailand: 12 universitas.
Melalui pertemuan ini, peserta dapat bertukar pengalaman mengenai pelaksanaan praktik mengajar internasional. Mereka juga membahas tantangan dan peluang pengembangan pendidikan calon guru.
Bagi FKIP UAD, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat komunikasi dengan universitas mitra. Selain itu, kegiatan ini membuka peluang kerja sama baru di bidang pendidikan dan penelitian.
Evaluasi SEA-Teacher Dorong Perbaikan Program
Rangkaian kegiatan diawali dengan SEA-Teacher Programme Evaluation Meeting pada 20 Oktober 2026. Pertemuan ini berfokus pada evaluasi pelaksanaan program, khususnya hasil evaluasi kohort ke-11.
Peserta meninjau berbagai temuan untuk mengidentifikasi praktik yang telah berjalan baik. Mereka juga membahas kendala, kebutuhan perbaikan, serta prioritas pengembangan program.
Direktur SEAMEO Secretariat, Datuk Dr. Habibah Abdul Rahim, menekankan pentingnya evaluasi sebagai sarana pembelajaran bersama.
Menurutnya, setiap institusi memiliki pengalaman dan karakteristik yang berbeda dalam menyelenggarakan praktik mengajar lintas budaya. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu saling belajar atau learn from each other.
Ia juga menyoroti pentingnya monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Perhatian tersebut mencakup tindak lanjut bagi alumni SEA-Teacher setelah menyelesaikan program.
Pengalaman mengajar di luar negeri diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lintas budaya (intercultural awareness). Selain itu, pengalaman tersebut dapat mendukung pertumbuhan profesional (professional growth) dan kemandirian calon guru.

Perwakilan dari Berbagai Negara
Tiga Pertanyaan Utama dalam Evaluasi SEA-Teacher
Dalam sesi evaluasi, peserta mendiskusikan tiga pertanyaan penting. Pertama, What works? Peserta mengidentifikasi praktik yang berhasil dan perlu dipertahankan. Kedua, What doesn’t work? Peserta mengevaluasi kegiatan atau mekanisme yang belum berjalan optimal. Ketiga, What should be changed? Peserta merumuskan perubahan yang diperlukan, langkah pelaksanaan, penanggung jawab, dan jadwal tindak lanjut.
Melalui pendekatan tersebut, evaluasi tidak hanya menghasilkan daftar permasalahan. Sebaliknya, forum ini mendorong penyusunan rekomendasi yang dapat diterapkan oleh institusi peserta.
Selain evaluasi program, peserta membahas dukungan bagi mahasiswa selama mengikuti pertukaran internasional. Dukungan tersebut mencakup akomodasi, konsumsi, transportasi, serta pembagian tanggung jawab antara universitas pengirim dan penerima.
Kesepakatan yang jelas diharapkan dapat membantu mahasiswa menjalani praktik mengajar secara aman, nyaman, dan optimal.
Konferensi Bahas Masa Depan Pendidikan Guru Asia Tenggara
Selain pertemuan evaluasi, kegiatan ini menghadirkan konferensi bertema Advancing Policy, Research, and Regional Collaboration in Teacher Education.
Konferensi membahas berbagai isu strategis dalam pendidikan calon guru. Topik utamanya mencakup kebijakan pendidikan, penelitian, inovasi pembelajaran, dan kerja sama regional.
Pada hari pertama, Dr. Bert J. Tuga, Presiden Philippine Normal University, menyampaikan sambutan pembukaan. Selanjutnya, peserta mengikuti paparan mengenai kesiapan calon guru menghadapi perubahan pendidikan di Asia Tenggara. Forum juga membahas pengalaman Filipina dalam memperkuat sistem pendidikan guru.
Diskusi panel menghadirkan para pemimpin pendidikan dari sejumlah negara. Mereka berbagi perspektif mengenai perkembangan kebijakan, tantangan, dan prioritas pendidikan guru di kawasan. Sementara itu, hari kedua menghadirkan perspektif global mengenai pendidikan calon guru. Kegiatan juga memberikan ruang bagi mahasiswa SEA-Teacher untuk menyampaikan pengalaman mereka.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UAD Terpilih Berbagi Pengalaman SEA-Teacher
Salah satu momen penting dalam konferensi ini adalah keterlibatan Tsalsa Rosyanda Putri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UAD.
Tsalsa terpilih sebagai salah satu dari tiga mahasiswa yang mewakili 145 peserta SEA-Teacher untuk berbagi pengalaman dalam sesi konferensi. Ia mengikuti kegiatan tersebut secara virtual. Dalam refleksinya, Tsalsa menyampaikan berbagai pembelajaran yang diperoleh selama mengikuti program praktik mengajar internasional.
Pengalaman tersebut membantunya mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mengajar. Ia juga belajar menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Selain itu, interaksi dengan individu dari berbagai latar belakang budaya memperluas pemahamannya mengenai keberagaman sistem pendidikan.
Melalui pengalaman tersebut, Tsalsa belajar menghargai perbedaan, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Program SEA-Teacher juga mendorongnya menjadi calon guru yang lebih mandiri, percaya diri, reflektif, dan responsif terhadap kebutuhan siswa.
Pesan Tsalsa bagi Calon Peserta SEA-Teacher
Tsalsa turut membagikan pesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti SEA-Teacher pada periode berikutnya. Ia mendorong calon peserta untuk berani keluar dari zona nyaman dan terbuka terhadap pengalaman baru.
Selain itu, mahasiswa perlu menghargai perbedaan budaya serta membangun komunikasi yang baik dengan mentor. Menurut refleksinya, tantangan selama program dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang sebagai calon pendidik.
Keterlibatan Tsalsa menunjukkan pentingnya menghadirkan perspektif mahasiswa dalam evaluasi program internasional. Pengalaman peserta dapat memberikan gambaran mengenai manfaat sekaligus tantangan praktik mengajar lintas negara.
FKIP UAD Jajaki Kerja Sama Penelitian dan Visiting Lecturer
Konferensi ini juga menghadirkan lokakarya melalui diskusi meja bundar. Peserta membahas berbagai isu pendidikan guru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Topik diskusi mencakup inovasi praktik mengajar, kompetensi digital, kecerdasan artifisial (AI), dan prioritas penelitian regional. Selain itu, peserta mendiskusikan kebijakan pendidikan guru, standar akreditasi, serta hubungan antara pendidikan prajabatan dan pengembangan profesional guru.

Perwakilan FKIP UAD Dr. Ratri Nur Hidayati, M.Pd.B.I.,
Bagi FKIP UAD, forum ini menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring dengan perguruan tinggi dari berbagai negara. Melalui komunikasi langsung, perwakilan UAD dapat membahas keberlanjutan pertukaran mahasiswa dengan universitas mitra. Pertemuan tersebut juga membuka peluang pengembangan kegiatan akademik lainnya.
Peluang kerja sama yang dijajaki meliputi penelitian bersama (joint research), dosen tamu (visiting lecturer), serta pengembangan program pendidikan calon guru. Di samping itu, komunikasi antarinstitusi dapat membantu menyelaraskan harapan dan tanggung jawab dalam pelaksanaan SEA-Teacher.
Dengan koordinasi yang lebih baik, universitas pengirim dan penerima diharapkan mampu memberikan pendampingan yang semakin efektif kepada mahasiswa.
SEA-Teacher Dukung Internasionalisasi Pendidikan Guru FKIP UAD
Partisipasi FKIP UAD dalam evaluasi dan konferensi SEA-Teacher 2026 mencerminkan upaya memperluas pengalaman internasional mahasiswa calon guru. Program ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk praktik mengajar di luar negeri. Lebih dari itu, mahasiswa dapat mempelajari keberagaman budaya, sistem pendidikan, dan pendekatan pembelajaran.
Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membentuk calon guru yang adaptif, mandiri, reflektif, dan mampu bekerja dalam lingkungan multikultural. Melalui evaluasi berkelanjutan, FKIP UAD berharap pelaksanaan SEA-Teacher semakin berkualitas. Fakultas juga berupaya memperkuat hubungan dengan universitas mitra serta mengembangkan peluang kolaborasi akademik.
Dengan demikian, FKIP UAD SEA-Teacher 2026 menjadi bagian dari langkah internasionalisasi pendidikan guru. Kolaborasi regional ini diharapkan terus memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan di Asia Tenggara.
*Ratri Nur Hidayati (Ed Karlina Humas FKIP)


