Dr. Dewi Eko Wati Bekali Siswa MA Nurul Ummah Cegah Perundungan dan Pelecehan Seksual
Yogyakarta – Dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. Dewi Eko Wati, M.Psi., Psikolog, menjadi narasumber dalam kegiatan MATAMUDA (Masa Ta’aruf Murid Madrasah) di MA Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta pada Selasa (14/7). Kegiatan bertema Anti Perundungan dan Pelecehan Seksual tersebut diikuti siswa baru Tahun Pelajaran 2026/2027.
Melalui kegiatan ini, Dewi membekali peserta dengan pemahaman tentang bentuk-bentuk perundungan, pelecehan seksual, serta langkah pencegahannya. Edukasi tersebut bertujuan menciptakan lingkungan madrasah yang aman, nyaman dan berkarakter.
Dalam pemaparannya, Dewi menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase penting yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial. Perubahan tersebut memengaruhi cara remaja berinteraksi sehingga mereka memerlukan pendampingan yang tepat.
Ia juga mengulas berbagai persoalan yang kerap terjadi di lingkungan pesantren, seperti perundungan verbal, relasi senior dan junior yang tidak sehat, kekerasan seksual, hingga ketakutan korban untuk melapor. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dicegah melalui edukasi sejak dini.
Perundungan dan pelecehan seksual bukan candaan ataupun tradisi yang dapat ditoleransi. Setiap siswa memiliki hak untuk belajar di lingkungan yang aman, saling menghormati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, ujar Dewi.
Kenali Tanda Kekerasan Sejak Dini
Dr. Dewi mengajak peserta mengenali berbagai bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan psikis, pelecehan seksual, hingga cyberbullying. Ia juga menjelaskan tanda-tanda yang perlu diwaspadai, seperti perubahan emosi, penurunan prestasi, menarik diri dari lingkungan, dan munculnya keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas.
Menurutnya, kemampuan mengenali tanda-tanda tersebut menjadi langkah awal untuk mencegah dampak yang lebih besar. Oleh karena itu, siswa perlu berani melapor kepada guru atau pihak sekolah apabila mengalami maupun menyaksikan tindakan kekerasan.
Selain membahas pencegahan, Dewi memperkenalkan konsep budaya sekolah yang aman melalui edukasi, sistem pelaporan yang jelas, pendampingan psikologis, dan evaluasi berkelanjutan. Pendekatan tersebut melibatkan guru, pengelola asrama, orang tua, dan peserta didik.
Pencegahan tidak cukup dilakukan oleh satu pihak. Seluruh warga sekolah perlu membangun budaya saling menghargai, berani melapor, dan saling melindungi agar lingkungan belajar benar-benar aman bagi semua, jelas Dewi.
FKIP UAD Dukung Pendidikan yang Aman dan Berkarakter
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi FKIP UAD dalam mendukung pendidikan yang aman, inklusif, dan berkarakter. Melalui edukasi tersebut, FKIP UAD mendorong siswa agar berani menjaga diri, menghormati orang lain, dan membangun budaya saling peduli.
(syariful humas fkip)



