Dekan FKIP UAD Soroti Kolaborasi untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia
Yogyakarta – Perubahan pendidikan tidak cukup dengan mengganti kurikulum atau mengikuti perkembangan teknologi. Perguruan tinggi juga perlu membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat agar pendidikan mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., menyampaikan gagasan tersebut dalam Good Talk Off Air bertema “Mau Dibawa ke Mana Sistem Pendidikan Kita?”. Kegiatan ini digelar oleh UAD bersama Good News From Indonesia (GNFI), Kamis (24/09) di Ruang Audio Visual, Musem Muhamamdiyah, UAD 4.
Dorong Kolaborasi Kampus dan Daerah
Dalam diskusi yang dihadiri oleh Kaprodi, Sekprodi di lingkungan FKIP serta mahasiswa UAD dan umum tersebut, Sayuti membahas peran perguruan tinggi dalam membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Ia menilai kampus perlu menyesuaikan kerja sama dengan kebutuhan dan potensi daerah agar dapat ikut menjawab persoalan masyarakat.
“Perlu orkestrasi antara kampus, pemda, dan masyarakat,” ujar Sayuti.
Sayuti juga menyoroti riset perguruan tinggi yang belum banyak bersinggungan dengan persoalan nyata di lapangan. Ia mendorong kampus mengintegrasikan KKN, riset dan pembelajaran agar mahasiswa dapat belajar sekaligus berkontribusi dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Perkuat Relasi Kampus dan Industri
Sayuti kemudian menyoroti hubungan perguruan tinggi dengan dunia industri. Ia melihat kedua sektor tersebut terkadang masih berjalan dengan pola pikir masing-masing.
“Kadang dua sektor ini berjalan dengan pola pikir masing-masing,” ujar Sayuti.
Karena itu, Sayuti mendorong kampus dan industri menyusun kurikulum bersama, menghadirkan magang bermutu dan proyek nyata, serta mempertemukan dosen dan praktisi untuk bertukar pengalaman. Ia juga mendorong kedua pihak mengembangkan riset terapan dan memanfaatkan laboratorium bersama dengan membagi pendanaan serta manfaat secara adil.
Sayuti juga mengajak generasi muda membangun relasi yang luas dan memulai proyek-proyek kecil untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan pembangunan ruang publik yang nyaman sebagai salah satu bentuk proyek yang dapat menghadirkan manfaat langsung bagi lingkungan.

Dekan FKIP UAD, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., bersama Dewan Pembina SALAM, Sri Wahyaningsih, B.Sc., dan moderator GNFI, Febriansyah Tri P
Pendidikan Perlu Berpusat pada Anak
Sementara itu, Sri Wahyaningsih, B.Sc., membahas perubahan pendidikan dari perspektif kebutuhan dan perkembangan anak. Ia menjelaskan bahwa setiap anak memiliki bakat, fitrah, latar belakang, lingkungan hidup, dan budaya yang berbeda.
Karena itu, Sri mengajak pendidik menghargai keunikan setiap anak. Ia juga menekankan bahwa perkembangan teknologi mengubah kehidupan anak sehingga pendidikan perlu merespons perubahan tersebut.
Sri memperkenalkan pendekatan Sanggar Anak Alam (SALAM) yang menempatkan kebutuhan dan minat anak sebagai dasar pembelajaran. Anak belajar melalui riset kontekstual dengan tahapan merencanakan, melakukan, mengungkap data, menganalisis, hingga menyimpulkan.
Melalui proses tersebut, anak tidak hanya menerima pengetahuan dari guru, tetapi membangun pengetahuannya melalui pengalaman dan penyelidikan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan keunikan dan kebutuhan anak.
Prof. Ir. Sunardi, S.T., M.T., Ph.D, Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, turut menekankan pendidikan sebagai hak setiap warga negara sekaligus sarana membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengubah masa depan. Piere Rainer dari GNFI juga menyoroti pentingnya menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Melalui gagasan dan kolaborasi lintas sektor, FKIP UAD terus mengambil peran dalam merespons tantangan pendidikan. FKIP UAD mendorong lahirnya pembelajaran, riset, dan inovasi yang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
(krln humas fkip)








