Pengajian Bulanan Dosen dan Tendik #33 FKIP Bahas Fiqih Ibadah Ramadhan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD menyelenggarakan Pengajian Bulanan Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) ke-33 dengan tema Fiqih Ibadah di Bulan Ramadhan. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan spiritual sekaligus refleksi menyambut bulan suci.
Dekan FKIP, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keistiqamahan dosen dan tendik dalam mengikuti pengajian rutin. Ia menekankan bahwa pengajian selalu menghadirkan ilmu, hikmah, dan pelajaran hidup untuk memperbaiki kualitas diri.
Sayuti juga menjelaskan bahwa FKIP rutin melaksanakan muhasabah mutu setiap bulan yang dihadiri oleh pejabat struktural program studi sebagai bentuk evaluasi diri. Prestasi FKIP sebagai perguruan tinggi swasta terbaik tingkat nasional merupakan dampak dari proses perbaikan berkelanjutan, bukan tujuan utama.

Dekan FKIP, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D.
Pengajian seperti ini menjadi bahan bakar bagi continuous improvement FKIP, karena perbaikan diri harus dimulai dari penguatan nilai dan keikhlasan. ungkap Sayuti.
Ia menambahkan bahwa sepertiga waktu manusia dihabiskan di tempat kerja, sehingga lingkungan kerja harus dibangun di atas nilai-nilai mulia. Nilai tersebut bukan materi semata, melainkan tujuan luhur dalam mendidik, meneliti, dan mengabdi. Pengajian dinilai penting sebagai sumber motivasi dan inspirasi.
Materi utama disampaikan oleh Dr. Syakir Jamaludin, S.Ag., M.A., anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah sekaligus Founder Kopi Ngaji. Syakir mengulas berbagai tradisi menjelang Ramadhan. Tradisi seperti shalat Raghaib, puasa Rajab, puasa Nishfu Sya’ban, nyadran, padusan, dan maaf-maafan tidak memiliki dasar sunnah dan hadis yang kuat, sehingga tidak dianjurkan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa ziarah kubur dilakukan untuk mengingat kematian dan mendoakan ahli kubur, bukan sebagai ritual khusus menyambut Ramadhan.

Dr. Syakir Jamaludin, S.Ag., M.A., menyampaikan materi
Ziarah kubur memiliki dasar sunnah, sedangkan tradisi seperti shalat Raghaib, puasa Rajab, dan nyadran tidak memiliki dasar yang kuat dalam Islam. ungkap Syakir.



