Intepretasi Kejenuhan Melalui Parade Monolog

Ketika manusia mencapai pada titik kejenuhan maka muncullah keculasan sebagai sifat dasar manusia yang selalu ingin lebih. Dari titik kejenuhan itulah Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB) mencoba mengintepretasikannya ke dalam bentuk Parade Monolog. Agar memiliki berbagai pemahaman dari sudut pandang masing-masing yang berbeda, ilustrasi titik kejenuhan itu digambarkan dengan empat naskah monolog yang berbeda. “Kapan…

Baca Selengkapnya

Syafaat

Cerpen oleh Atastyawan Kencan Pertama “Kau seorang mukmin, pantaskah berpakaian seperti itu.” Zaara menoleh cepat, mata mereka bertemu. Mata Zaara yang tajam bertanya, mata Elon yang mengkilat menantang. Pembicaraan seru berjalan bisu, dengan bahasa mata, bahasa muda-mudi. Seorang pelayan yang minta permisi sambil mengangkat dua piring kosong di meja bundar kafe menginterupsi perdebatan sepi itu….

Baca Selengkapnya

Malam Terakhir dengan Ayah

Sebuah cerpen oleh Arif Saifudin Yudistira*) “Aaaaaaaaaaaaaaaahhhh……………………..”. Ayah………………, Tidak………………………….!!!. Aku memeluk ayahku erat-erat. Seperti tak pernah bertemu kembali dengannya.  Seperti biasa, aku selalu menyayangi  ayah. Ayah adalah yang paling mengerti apa yang kumau. Aku tak tahu percakapan yang dilakukan dua minggu kemaren. Yah…..di ruangan ini, aku tak menyangka, ayah telah pergi….. Tiba-tiba pikiranku melayang-layang membawaku…

Baca Selengkapnya

bingkai-bingkai mu, sajak

sebuah puisi oleh PG Bila aku dan sajak-sajak terurai Bingkai – bingkai lembut senandang dalam pandang lama Maka aku, sajak, dan pandang mulai ingin menepi dalam lelah yang padam Lalu tidur dalam langitmu, petang Bila saat aku dan sajak-sajak mulai terurai Dan kikis-kikis terasa asing Maka aku, sajak dan keasingan ini adalah jelmaan dewa Lalu…

Baca Selengkapnya

Nubuwat

Oleh Rachmad Resmiyanto Pagi ini Yogya nampak tua. Di sudut-sudut kota, debu-debu berhamburan ke segenap penjuru. Mobil-mobil yang merayap di jalanan semuanya kusam kelabu. Rumah-rumah penuh dengan lumuran debu. Gedung-gedung yang menjulang tinggi terasa sepi, tak terawat lagi. Meski pagi ini tak hujan, banyak orang keluar dengan jas hujan. Beberapa yang lain pergi membawa payung….

Baca Selengkapnya